Rabu, 06 Februari 2013
PONDOK PESANTREN SUBULUSSALAM: QIRA'ATUL QUR'AN UNTUK ORANG MATI
PONDOK PESANTREN SUBULUSSALAM: QIRA'ATUL QUR'AN UNTUK ORANG MATI: ||| QIRA'ATUL QUR'AN UNTUK ORANG MATI ||| Dalam membahas masalah ini, memang ada perselisihan dalam madzhab Syafi’i yang mana ada dua ...
Rabu, 30 Januari 2013
Jam'iyyah Nahdlatul Ulama' Lahir
|
Jam'iyyah Nahdlatul Ulama' Lahir
|
|
Setelah
kaum Wahabi melalui pemberontakan yang mereka lakukan pada tahun 1925 berhasil
menguasai seluruh daerah Hejaz, maka mereka mengubah nama negeri Hejaz dengan
nama Saudi Arabia. Dengan dukungan sepenuhnya dari raja mereka yang pertama,
Ibnu Sa'ud, mereka mengadakan perombakan-perombakan secara radikal terhadap tata
cara kehidupan masyarakat. Tata kehidupan keagamaan, mereka sesuaikan dengan
tata cara yang dianut oleh golongan Wahabi, yang antara lain adalah ingin
melenyapkan semua batu nisan kuburan dan meratakannya dengan tanah.
Keadaan
tersebut sangat memprihatinkan bangsa Indonesia yang banyak bermukim di negeri
Hejaz, yang menganut paham Ahlus Sunnah Wal Jama'ah,dengan memilih salah satu
dari empat madzhab. Mereka sangat terkekang dan tidak mempunyai kebebasan lagi
dalam menjalankan ibadah sesuai dengan paham yang mereka anut. Hal ini dianggap
oleh bangsa Indonesia sebagai suatu persoalan yang besar.
Persoalan
tersebut oleh bangsa Indonesia tidak dianggap sebagai persoalan nasional bangsa
Arab saja, melainkan dianggap sebagai persoalan internasional, karena menyangkut
kepentingan ummat Islam di seluruh dunia. Oleh karena itu, para tokoh ulama di
Jawa Timur menganggap penting untuk membahas persoalan tersebut. Dipelopori oleh
alm. KH. Abdul Wahab Hasbullah dan almarhum hadlratus
syaikh KH. Hasyim Asy'ari, diadakanlah pertemuan di
langgar H. Musa Kertopaten Surabaya. Pada pertemuan tersebut dilahirkan satu
organisasi yang diberi nama Comite Hejaz, yang
anggotanya terdiri dari para tokoh tua dan para tokoh muda.
Semula Comite Hejaz bermaksud akan mengirimkan utusan ke tanah
Hejaz untuk menghadap raja Ibnu Sa'ud. Akan tetapi oleh karena satu dan lain hal
pengiriman utusan ditangguhkan, dan sebagai gantinya hanya mengirimkan telegram
kepada raja Ibnu Sa'ud.
Pada
tanggal 31 Januari 1926 M. atau 16 Rajab 1345 H, hari Kamis, di lawang Agung
Ampel Surabaya, diadakan pertemuan yang disponsori oleh Comite Hejaz sebagai
realisasi dari gagasan yang timbul pada pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan
ini, lahirlah organisasi baru yang diberi nama "JAM'IYYAH NAHDLATUL ULAMA"
dengan susunan pengurus HB (Hoof Bestuur)sebagai
berikut:
Kehadiran
Jam'iyyah Nahdlatul Ulama' dimaksudkan sebagai suatu organisasi yang dapat
mempertahankan ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dari segala macam intervensi
(serangan) golongan-golongan Islam di luar Ahlus Sunnah Wal Jama'ah di Indonesia
pada khususnya dan di seluruh dunia pada umumnya; dan bukan hanya sekedar untuk
menghadapi golongan Wahabi saja sebagaimana Comite Hejaz. Disamping itu
juga dimaksudkan sebaga organisasi yang mampu memberikan reaksi terhadap
tekanan-tekanan yang diberikan oleh Pemerintah Penjajah Belanda kepada ummat
Islam di Indonesia.
| |||||||||||||||||||||||||||||||||
Selasa, 29 Januari 2013
SHADAQAH UNTUK MAYYIT
||| SHADAQAH UNTUK MAYYIT
|||
Telah diketahui sebelumnya pada kutipan-kutipan diatas bahwa pahala
shadaqah juga sampai kepada orang mati sebagaimana do’a, dan memberikan manfaat
bagi orang mati. Sebagai tanbahan dari pernyataan sebelumnya maka berikut
diantara hadits dan juga pendapat ‘ulama Syafi’iyah lainnya tentang
bermanfaatnya shadaqah untuk orang mati. Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan
:
أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله إن أمي افتلتت نفسها ولم توص وأظنها لو تكلمت تصدقت أفلها أجر إن تصدقت عنها قال نعم
“Sesungguhnya
seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, kemudian ia
berkata ; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia (mendadak)
namun ia belum sempat berwasiat, dan aku menduga seandainya sempat berkata-kata
ia akan bershadaqah, apakah ia akan mendapatkan pahala jika aku bershadaqah
atas beliau ?, Nabi kemudian menjawab ; “Iya (maka bershadaqahlah, riwayat
lain)”.[1]
Ketika mengomentari hadits ini, Imam an-Nawawi rahimahullah
mengatakan :
وفي هذا الحديث : أن الصدقة عن الميت تنفع الميت ويصله ثوابها ، وهو كذلك بإجماع العلماء ، وكذا أجمعوا على وصول الدعاء وقضاء الدين بالنصوص الواردة في الجميع ، ويصح الحج عن الميت إذا كان حج الإسلام ، وكذا إذا وصى بحج التطوع على الأصح عندنا ، واختلف العلماء في الصواب إذا مات وعليه صوم ، فالراجح جوازه عنه للأحاديث الصحيحة فيه
“Pengertian
dalam hadits ini adalah bahwa shadaqah dari mayyit bermanfaat dan pahalanya
sampai kepada mayyit, dan hal itu dengan ijma’ ulama, sebagaimana juga ulama
ber-ijma’ atas sampainya pahala do’a dan membayar hutang berdasarkan nas-nas
yang telah warid didalam keseluruhannya, dan juga sah berhaji atas mayyit
apabila haji Islam, dan seperti itu juga ketika berwasiat haji sunnah
berdasarkan pendapat yang ashah (lebih sah), dan Ulama berikhtilaf tentang
pahala orang yang meninggal dunia namun memiliki tanggungan puasa, pendapat yang
rajih (lebih unggul) memperbolehkannya (berpuasa atas namanya) berdasarkan
hadits-hadits shahih tentang hal itu”. [2]
وأما ما حكاه أقضى القضاة أبو الحسن الماوردي البصري الفقيه الشافعي في كتابه الحاوي عن بعض أصحاب الكلام من أن الميت لا يلحقه بعد موته ثواب فهو مذهب باطل قطعا وخطأ بين مخالف لنصوص الكتاب والسنة وإجماع الأمة فلا التفات إليه ولا تعريج عليه
“Adapun mengenai
yang dikisahkan oleh Qadli dari pada qadli Abul Hasan al-Mawardi al-Bashriy
al-Faqih asy-Syafi’i didalam kitabnya (al-Hawiy) tentang sebagian ahli bicara
yang menyatakan bahwa mayyit tidak bisa menerima pahala setelah kematiannya, itu
adalah pendapat yang bathil secara qath’i dan kekeliruan diantara mereka
berdasarkan nas-nas al-Qur’an, as-Sunnah dan kesepakatan (ijma’) umat Islam,
maka tidak ada toleransi bagi mereka dan tidak perlu di hiraukan. [3]
Banyak penjelasan kitab-kitab syafi’iyah yang senada dengan hal diatas.
Hal yang juga perlu di garis bawahi disini adalah bahwa seseorang bisa
memperolah manfaat dari amal orang lain.
CATATAN KAKI :
[1] Shahih Muslim no. 1672 ( Bab sampainya pahala shadaqah dari mayyit atas
dirinya) dan no. 3083 (Bab sampainya pahala shadaqah kepada mayyit), dalam bab
ini Imam Muslim mencantum beberapa hadits lainnya yang redaksinya mirip ;
Mustakhraj Abi ‘Awanah no. 4701.
[2] Lihat ; Syarah Shahih Muslim [3/444] Imam Nawawi
[3] Lihat ; Syarah Shahih Muslim [1/89-90] ;
QIRA'ATUL QUR'AN UNTUK ORANG MATI
||| QIRA'ATUL QUR'AN UNTUK ORANG MATI
|||
Dalam membahas masalah ini, memang ada perselisihan dalam madzhab
Syafi’i yang mana ada dua qaul (pendapat) yang seolah-olah bertentangan,
namun kalau dirincikan maka akan nampak tidak ada bedanya. Sedangkan Imam
Tiga (Abu Hanifah, Malik dan Ahmad bin Hanbal) [1] berpendapat bahwa pahala bacaan al-Qur’an sampai
kepada orang mati. Apa yang telah dituturkan oleh para Imam syafi’iyah yakni
berupa petunjuk-petunjuk atau aturan dalam permasalahan ini telah benar-benar
diamalkan dengan baik dalam kegiatan tahlilan.
Perlu diketahui, bahwa seandainya pun ada perselisihan dikalangan
syafi’iyah dalam masalah seperti ini, maka itu hanyalah hal biasa yang sering
terjadi ketika mengistinbath sebuah hukum diantara para mujtahid dan bukanlah
sarana untuk berpecah belah sesama kaum Muslimin, dan tidak pula pengikut
syafi’iyah berpecah belah hanya karena hal itu, tidak ada kamus yang demikian
sekalipun ‘ulama berbeda pendapat, semua harus disikapi dengan bijak. Akan
tetapi, sebagian pengingkar tahlilan selalu menggembar-gemborkan adanya
perselisihan ini (masalah furu’), mereka mempermasalahkan yang tidak terlalu
dipermasalahkan oleh syafi’iyah dan mereka mencoba memecah belah persatuan umat
Islam terutama Syafi’iyah, dan ini tindakan yang terlarang (haram) dalam syariat
Islam. Mereka juga telah menebar permusuhan dan melemparkan banyak
tuduhan-tuduhan bathil terhadap sesama muslim, seolah-olah itu telah menjadi
“amal dan dzikir” mereka sehari-hari, tiada hari tanpa menyakiti umat
Islam. Na’udzubillah min dzalik. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam
sangat benci terhadap mereka yang suka menyakiti sesama muslimin. Berikut
diantara qaul-qaul didalam madzhab Syafi’iyah yang sering dipermasalahkan : Imam
an-Nawawi menyebut didalam al-Minhaj syarah Shahih Muslim :
والمشهور في مذهبنا أن قراءة القرآن لا يصله ثوابها ، وقال جماعة من أصحابنا : يصله ثوابها ، وبه قال أحمد بن حنبل
“Dan yang
masyhur didalam madzhab kami (syafi’iyah) bahwa bacaan al-Qur’an
pahalanya tidak sampai kepada mayyit, sedangkan jama’ah dari ulama kami
(Syafi’iyah) mengatakan pahalanya sampai, dengan ini Imam Ahmad bin Hanbal
berpendapat”. [2]
Dihalaman lainnya beliau juga menyebutkan :
وأما قراءة القرآن فالمشهور من مذهب الشافعى أنه لا يصل ثوابها إلى الميت وقال بعض أصحابه يصل ثوابها إلى الميت وذهب جماعات من العلماء إلى أنه يصل إلى الميت ثواب جميع العبادات من الصلاة والصوم والقراءة وغير ذلك وفى صحيح البخارى فى باب من مات وعليه نذر أن بن عمر أمر من ماتت أمها وعليها صلاة أن تصلى عنها وحكى صاحب الحاوى عن عطاء بن أبى رباح واسحاق بن راهويه أنهما قالا بجواز الصلاة عن الميت وقال الشيخ أبو سعد عبد الله بن محمد بن هبة الله بن أبى عصرون من أصحابنا المتأخرين فى كتابه الانتصار إلى اختيار هذا، وقال الامام أبو محمد البغوى من أصحابنا فى كتابه التهذيب لا يبعد أن يطعم عن كل صلاة مد من طعام طعام وكل هذه إذنه كمال ودليلهم القياس على الدعاء والصدقة والحج فانها تصل بالاجماع
“Adapun pembacaan
al-Qur’an, yang masyhur dari madzhab asy-Syafi’i pahalanya tidak sampai
kepada mayyit, sedangkan sebagian ashabusy syafi’i (‘ulama syafi’iyah)
mengatakan pahalanya sampai kepada mayyit, dan pendapat kelompok-kelompok ulama
juga mengatakan sampainya pahala seluruh ibadah seperti shalat, puasa, pembacaan
al-Qur’an dan selain yang demikian, didalam kitab Shahih al-Bukhari pada bab
orang yang meninggal yang memiliki tanggungan nadzar, sesungguhnya Ibnu ‘Umar
memerintahkan kepada seseorang yang ibunya wafat sedangkan masih memiliki
tanggungan shalat supaya melakukan shalat atas ibunya, dan diceritakan oleh
pengarang kitab al-Hawi dari ‘Atha’ bin Abu Ribah dan Ishaq bin Ruwaihah bahwa
keduanya mengatakan kebolehan shalat dari mayyit (pahalanya untuk mayyit).
Asy-Syaikh Abu Sa’ad Abdullah bin Muhammad Hibbatullah bin Abu ‘Ishrun dari
kalangan syafi’iyyah mutaakhhirin (pada masa Imam an-Nawawi) didalam kitabnya
al-Intishar ilaa ikhtiyar adalah seperti pembahasan ini. Imam al-Mufassir
Muhammad al-Baghawiy dari anshabus syafi’i didalam kitab at-Tahdzib berkata ;
tidak jauh (tidaklah melenceng) agar memberikan makanan dari setiap shalat
sebanyak satu mud, dan setiap hal ini izinnya sempurna, dan dalil mereka adalah
qiyas atas do’a, shadaqah dan haji, sesungguhnya itu sampai berdasarkan ijma’.”
[3]
Juga dalam al-Majmu’ syarah al-Muhadzdzab :
واختلف العلماء في وصول ثواب قراءة القرآن، فالمشهور من مذهب الشافعي وجماعة أنه لا يصل. وذهب أحمد بن حنبل وجماعة من العلماء وجماعة من أصحاب الشافعي إلى أنه يصل، والمختار أن يقول بعد القراءة: اللهم أوصل ثواب ما قرأته، والله أعلم اه
“’Ulama’
berikhtilaf (berselisih pendapat) terkait sampainya pahala bacaan al-Qur’an,
maka yang masyhur dari madzhab asy-Syafi’i dan sekelompok ulama syafi’i
berpendapat tidak sampai, sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal, sekelompok ‘ulama
serta sebagian sahabat sy-Syafi’i berpendapat sampai. Dan yang dipilih agar
berdo’a setelah pembacaan al-Qur’an : “ya Allah sampaikan (kepada Fulan)
pahala apa yang telah aku baca”, wallahu a’lam”.[4]
Imam Syamsuddin Muhammad al-Khathib asy-Syarbini didalam Mughni
:
تنبيه: كلام المصنف قد يفهم أنه لا ينفعه ثواب غير ذلك كالصلاة عنه قضاء أو غيرها، وقراءة القرآن، وها هو المشهور عندنا، ونقله المصنف في شرح مسلم والفتاوى عن الشافعي - رضي الله عنه - والأكثرين، واستثنى صاحب التلخيص من الصلاة ركعتي الطواف
“Tahbihun :
perkataan mushannif sungguh telah dipahami bahwa tidak bermanfaat pahala selain
itu (shadaqah) seperti shalat yang di qadha’ untuknya atau yang lainnya,
pembacaan al-Qur’an, dan yang demikian itu adalah qaul masyhur disisi kami
(syafi’iyah), mushannif telah menuqilnya didalam Syarhu Muslim dan al-Fatawa
dari Imam asy-Syafi’i –radliyallahu ‘anh- dan kebanyak ulama, pengecualian
shahiu Talkhis seperti shalat ketika thawaf ”.[5]
Imam al-Mufassir Ibnu Katsir asy-Syafi’i didalam penjelasan tafsir QS.
An-Najm ayat 39 juga menyebutkan pendapat Imam asy-Syafi’i :
ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛
“Dan dari ayat
ini, Imam asy-Syafi’i rahimahullah beristinbath (melakukan penggalian hukum),
demikian juga orang yang mengikutinya bahwa bacaan al-Qur’an tidak sampai
menghadiahkan pahalanya kepada mayyit”. [6]
Dari beberapa kutipan diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam Madzhab
Syafi’i ada dua pendapat yang seolah-olah berseberangan, yakni ;
Pendapat yang menyatakan pahala bacaan al-Qur’an tidak sampai, ini
pendapat Imam asy-Syafi’i, sebagian pengikutnya ; kemudian ini di istilahkan
oleh Imam an-Nawawi (dan ‘ulama lainnya) sebagai pendapat masyhur (qaul
masyhur).
Pendapat yang menyatakan sampainya pahala bacaan al-Qur’an, ini pendapat
ba’dlu ashhabis Syafi’i (sebagian ‘ulama Syafi’iyah) ; kemudian ini di
istilahkan oleh Imam an-Nawawi (dan ulama lainnya) sebagai pendapat/qaul
mukhtar (pendapat yang dipilih/ dipegang sebagai fatwa Madzhab dan lebih
kuat), pendapat ini juga dipegang oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan imam-imam
lainnya.
CATATAN KAKI :
[1] Lihat : Mughni Muhtaj lil-Imam
al-Khatib as-Sarbini [4/110] ;
وحكى المصنف في شرح مسلم والأذكار وجها أن ثواب القراءة يصل إلى الميت
كمذهب الأئمة الثلاثة، واختاره جماعة من الأصحاب منهم ابن الصلاح، والمحب الطبري،
وابن أبي الدم، وصاحب الذخائر، وابن أبي عصرون، وعليه عمل الناس، وما رآه المسلمون
حسنا فهو عند الله حسن، وقال السبكي: والذي دل عليه الخبر بالاستنباط أن بعض القرآن
إذا قصد به نفع الميت وتخفيف ما هو فيه نفعه، إذ ثبت أن الفاتحة لما قصد بها القارئ
نفع الملدوغ نفعته، وأقره النبي - صلى الله عليه وسلم - بقوله: «وما يدريك أنها
رقية» وإذا نفعت الحي بالقصد كان نفع الميت بها أولى اهـ.
“dan diceritakan oleh mushannif
didalam Syarh Muslim dan al-Adzkar tentang suatu pendapat bahawa pahala bacaan
al-Qur’an sampai kepada mayyit, seperti madzhab Imam Tiga (Abu Hanifah,
Maliki dan Ahmad bin Hanbal), dan sekelompok jama’ah dari al-Ashhab (ulama
Syafi’iyyah) telah memilih pendapat ini, diantaranya seperti Ibnu Shalah,
al-Muhib ath-Thabari, Ibnu Abid Dam, shahib ad-Dakhair juga Ibnu ‘Abi Ishruun,
dan umat Islam beramal dengan hal tersebut, apa yang oleh kaum Muslimin di
pandang baik maka itu baik disisi Allah. Imam As-Subki berkata : dan yang
menujukkan atas hal tersebut adalah khabar (hadits) berdasarkan istinbath bahwa
sebagian al-Qur’an apabila di tujukan (diniatkan) pembacaannya niscaya
memberikan manfaat kepada mayyit dan meringankan (siksa) dengan kemanfaatannya.
Apabila telah tsabit bahwa surah al-Fatihah ketika di tujukan (diniatkan)
manfaatnya oleh si pembaca bisa bermanfaat bagi orang yang terkena sengatan,
sedangkan Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam taqrir atas kejadian tersebut
dengan bersabda : “Dari mana engkau tahu bahwa surah al-Fatihah adalah ruqiyyah
?”, jika bermanfaat bagi orang hidup dengan mengqashadkannya (meniatkannya) maka
kemanfaatan bagi mayyit dengan hal tersebut lebih utama. Selesai”.
I’anathuth Thalibin lil-Imam
al-Bakri Syatha ad-Dimyathi [3/258] ;
وحكى المصنف في شرح مسلم والأذكار وجها أن ثواب القراءة يصل إلى الميت،
كمذهب الأئمة الثلاثة، واختاره جماعة من الأصحاب، منهم ابن الصلاح، والمحب الطبري،
وابن أبي الدم، وصاحب الذخائر، وابن أبي عصرون وعليه عمل الناس وما رآه المسلمون
حسنا فهو عند الله حسن وقال السبكي الذي دل عليه الخبر بالاستنباط أن بعض القرآن
إذا قصد به نفع الميت وتخفيف ما هو فيه، نفعه، إذ ثبت أن الفاتحة لما قصد بها
القارئ نفع الملدوغ نفعته، وأقره النبي - صلى الله عليه وسلم - بقوله: وما يدريك
أنها رقية؟ وإذا نفعت الحي بالقصد كان نفع الميت بها أولى اه (قوله: لا يصل ثوابها
إلى الميت) ضعيف (وقوله: وقال بعض أصحابنا يصل) معتمد
“...... (frasa, pahala bacaaan
al-Qur’an tidak sampai kepada mayyit) merupakan qaul yang lemah (frasa ;
dan sebagian ashhab kami –syafi’iyyah- mengatakan sampai pahalanya kepada mayyit
) merupakan qaul yang kuat atau mukmatad”.
Tuhfatul Habib (Hasyiyah
al-Bujairami) [2/302] :
وقد نقل الحافظ السيوطي أن جمهور السلف والأئمة الثلاثة على وصول ثواب
القراءة للميت
“dan sungguh al-Hafidz As-Suyuthi
telah menaqal bahwa Jumhur Salafush Shaleh dan Aimmatuts Tsalatsah (Imam Tiga
: Abu Hanifah, Malik, Ahmad bin Hanbal) menyatakan sampainya pahala bacaan
al-Qur’an untuk mayyit”.
[2] Lihat : Syarah Shahih Muslim [7/90].
[3] Lihat : Syarah Shahih Muslim [1/90].
[4] Lihat : al-Majmu’ syarah
al-Muhadzdzab lil-Imam an-Nawawi [15/522] ; al-Adzkar lil-Imam an-Nawawi hal.
165.
[5] Lihat : Mughni Muhtaj lil-Imam
Syamsuddin Muhammad al-Khathib asy-Syarbini (4/110).
[6] Lihat : Tafsirul Qur’an
al-‘Adzim lil-Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’i [7/431].
Langganan:
Postingan (Atom)